Politik

Santri VS Radikalisme

pojokkampung.net – Sebagai santri yang di anggap hanya belajar Nahwu, shorof dan lain sebagainya harus dapat memahami tentang gerakan radikal secara sistematis serta dapat memetakan gerakan Radikalisme.

Radikalisme atau Faham Radikal dapat dibagi menjadi beberapa kelompok :

Pertama, Kelompok radikal politik. Kelompok ini berkomitmen menegakan khilafah Islamiyah melalui jalur dialog. Mereka memilih jalur dialog di kampus-kampus dan masjid-masjid untuk mensosialisasikan visi dan misinya. Kelompok ini lebih berkosentrasi dalam wacana politik islam ketimbang memikirkan amaliyah-amaliyah bid’ah dan khurafat. Satu-satunya bid’ah yang mereka soroti adalah bid’ah dalam sistem politik demokrasi yang dihadap-hadapkan dengan sistem otentik Khilafah.

Kedua, kelompok radikal vigilante, yakni kelompok yang tak segan-segan main hakim sendiri dalam memberantas kemaksiatan seperti prostitusi, perjudian, dan MIRAS. Pola dakwah seperti ini jelas berbeda dengan santri yang lebih mengedepankan cara-cara santun dan damai. Bagi kalangan santri, amar ma’ruf bukan main hakim sendiri dengan kekerasan melainkan menyeru dengan kelembutan dan Kasih Sayang.

Ketiga kelompok radikal paramilitary, yakni gerakan islam radikal yang memiliki pasukan yang bersifat militeristik. Mereka menggalang pasukan karena merasa keyakinan mereka terancam. Kelompok ini jelas berbeda dengan santri yang memilih jalur damai dalam membela keyakinan. Kalangan santri memilih sikap tawazum, tasamuh, dan I’tidal, sehingga konflik-konflik keagamaan sebaiknya direkonsiliasikan melalui jalur dialog dan hukum.

Keempat, kelompok radikal teroris, yakni kelompok yang melegalkan teror di masyarakat untuk mencapai tujuan ideologis mereka. Kelompok ini sering dikaitkan dengan ISIS, Kaum santri jauh dari kecenderungan ini. Pondok pesantren NU senantiasa mengajarkan Islam rahmatan lil alamin yang mengedepankan dialog antarperadaban dan antarbudaya.

Kelima, radikal tradisional revivalis-edukatif, yakni kelompok pemurnian akidah yang memilih jalur Pendidikan dan revivalistik-puritanistik kelompok yang menyeru kembali kepada alqur’an dan hadits, Kelompok ini dikatakan radikal karena tidak segan-segan merusak simbol-simbol yang dianggap bid’ah dan khurafat. Kelompok ini juga menganggap bahwa krisis multidimensional yang dialami oleh umat islam saat ini akibat dari kian jauhnya mereka dari ajaran-ajaran nabi. Oleh sebab itu diperlukan gerakan kembali kepada al-Quran dan hadits. Namun, sayangnya, dalam proses kembali kepada al-Quran dan hadits kelompok ini terjebak dalam pemahaman yang tekstual.

Lalu dimana posisi kaum santri ?

Kaum santri saat ini tidak bisa lagi dianggap sebagai komunitas terbelakang yang gigih mempertahankan tradisionalisme. Gus Dur Bersama gerbong intelektual-santri-progresif telah menjadi tanda adanya gerakan pergerseran dari tradisionalis ke post-tradisionalis. Gerakan post-tradisionalis adalah gerakan pemikiran santri yang hendak menyelaraskan antara tradisi dan modernitas. Kalangan santri menilai bahwa modernisasi tidak tercerabut dari akar tradisi.
Para santri yakin bahwa kitab-Kitab kuning atau Kitab-Kitab Klasik memiliki kekayaan yang bisa dieksplorasi untuk mengawal demokratisasi, modernisasi, dan penegakan keadlian serta kemanusiaan di Indonesia.

Perbedaan harus dihormati dan tidak boleh menjadi sumbu permusuhan serta kekerasan. Kendati demikian, perbedaan pendapat harus didialogkan dengan penuh simpati dan empati dalam rangka kontestasi argumentasi untuk menguatkan keyakinan dan amaliyah masing-masing kelompok.

Pendulis : Andhd
Editor : Sulis

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close